[Author Freelance] (FF Series) I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! (It’s Your Baby) Part 15

Cho Kyuhyun

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah 

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-14 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

 

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

BLAM..

Hye Ra menutup pintu kamarnya dengan kencang tepat sesaat setelah Kyuhyun keluar. Ia berjalan menuju ranjang dan duduk diatasnya. Diliriknya sekilas sebelum pada akhirnya mengambil nampan berisi segelas susu vanilla dan semangkuk buah buahan segar. Disuapnya satu persatu buah buahan yang tersaji dihadapannya.

“Mengapa kau terus saja berdegup?!” Hye Ra menaruh telapak tangannya di dada yang tengah berdegup kencang itu.

Ketika Hye Ra meletakkan mangkuk buah kembali keatas nakas, matanya menangkap sebuah benda yang cukup membuat Hye Ra penasaran.

Nuguya?

“Apakah dia yang bernama Cho Ah Ra itu? Neomu yeppeuda.

Hye Ra tersenyum menatap sebuah pigura yang membingkai foto wanita cantik berambut panjang itu.

“Dia mirip dengan Kyuhyun.” Matanya beralih menatap gambar seorang namja yang tengah duduk bersebelahan dengan yeoja di foto yang sama.

“Tetapi dimana dia sekarang?”

 

~Story Beginning~

 

 

 

 

 

Jam yang tergantung kokoh di dinding ruang makan itu masih menunjukkan pukul 07.00 pagi tetapi Hye Ra telah memulai aktivitas yang terbilang lumrah untuk seorang wanita. Memasak. Walaupun hanya membantu Nyonya Cho memotong sayuran. Ya, demi sopan santun, setidaknya Hye Ra harus mulai mencoba membiasakan dan berinteraksi dengan keluarga ini.

“Kau terlihat sangat terampil.” Senyum menggantung indah di bibir Nyonya Cho ketika menyampaikan pendapatnya kepada Hye Ra.

Ne?

“Kau terbiasa memasak.”

Hye Ra yang mendengar kalimat pujian itu hanya bisa melontarkan senyuman singkat sebelum kembali menundukkan kepalanya dan fokus pada beberapa sayuran dihadapannya yang masih dalam keadaan belum terpotong.

“Aku akan sangat lega jika Kyuhyun bersamamu. Setidaknya makanan dan asupan gizi bocah itu terjamin olehmu, Hye Ra.” Wanita bernama Hana, Cho Hana itu pun tergelak.

Hye Ra mengangkat kepalanya kembali dan menatap wanita paruh baya dihadapannya itu. Ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Tak ada sedikit dorongan untuknya agar ikut menimpali gelakan tawa wanita 50 tahunan itu. Dalam pikirannya, ia sama sekali tak menemukan titik kelucuan dari ucapannya.

Eomma.” Suara sedikit berat itu sukses membuat dua orang wanita berbeda usia itu menolehkan kepalanya ke sumber suara.

Waeyo,Kyunie?”

Anni. Hanya ingin melihat pekerjaan seorang wanita.”

“Hhh~ sudahlah. Kau disini hanya mengacau saja. Tunggulah bersama Appa­-mu di halaman belakang.” Nyonya Cho tak membiarkan anak lelakinya itu berada di dapur dan ia langsung bertindak dengan mendorong pelan punggung Kyuhyun kearah pintu kaca yang menghubungkan dapur dan halaman.

Chakkaman, Eomma.” Kyuhyun menahan tubuhnya dengan berpegangan pada gagang pintu kaca tersebut.

Wae?

“Hye Ra, siang nanti. Bagaimana jika kita keluar? Temani aku berjalan-jalan.” Kyuhyun mengatakan dengan raut wajah dan tatapan yang serius.

“Aku…..”

“Aku tidak menerima penolakan. Ikut saja denganku atau aku akan mempercepat hari pernikahan kita.”

-oOo-

Balutan dress selutut berwarna salem dipadukan dengan flat shoes putih gading sangat terlihat indah melekat pada tubuh Hye Ra yang sempurna.

“Sebenarnya kita akan pergi kemana?” Tanya Hye Ra sambil melipat tangannya di depan dada saat tengah berdiri disamping Mercedes Benz hitam milik Kyuhyun.

“Jika kau ikut denganku, pasti kau akan mengetahuinya.” Kyuhyun tersenyum puas sambil membukakan pintu mobil untuk Hye Ra.

“Baiklah… Baiklah… Aku ikut denganmu.” Hye Ra mendudukkan kasar tubuhnya di jok mobil.

Assa!” Kyuhyun menutup pintu yang tadi dibukakan untuk Hye Ra dan langsung berjalan cepat melewati bagian depan mobilnya untuk mencapai pintu mobil di satu bagian lainnya.

Hye Ra tak berhenti menatap Kyuhyun yang tengah berjalan menuju pintu disisi kirinya dari balik kaca depan mobil. Entah apa yang membuatnya –lebih tepatnya hatinya- untuk tak berhenti mengkaitkan pandangannya kepada lelaki menyebalkan itu.

“Kau siap?”

Sontak Hye Ra tergagap dan memalingkan pandangannya keluar jendela. Sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan kepadanya itu.

“Aku akan pasangkan sabuk pengaman.” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya kearah Hye Ra sambil tangannya bergerak menggapai sabuk pengaman.

Hye Ra tersentak dan langsung menoleh cepat.

DEG

Jarak wajah keduanya hanya berjarak sekitar 3 centimeter. Ditambah lagi dengan satu tangan Kyuhyun yang berada tepat di samping Hye Ra tengah memegang sabuk pengaman sehingga terlihat Kyuhyun tengah mengunci tubuh Hye Ra.

Hembusan nafas tak beraturan dari pernafasan keduanya saling menyapu permukaan kulit wajah satu sama lain, membuat sebuah sensasi tersendiri terasa.

“Aku… Aku bisa memasangnya sendiri.” Hye Ra memecah suasana keheningan dan juga menarik sabuk pengaman untuk di lingkarkan pada tubuhnya sendiri.

Kyuhyun membenahi duduknya ke posisi semula sambil berdehem canggung.

“Sebaiknya.. kita.. pergi sekarang.”

-oOo-

 

Jam telah menunjukkan pukul 12 siang dan itu berarti sudah waktunya untuk istirahat makan siang. Tetapi berbeda dengan sesosok namja berkacamata yang tengah sibuk dengan setumpuk map di atas meja kerjanya. Ia sama sekali tak berniat untuk menggeser sedikit pun tubuhnya apalagi untuk berdiri dan keluar ruangan hanya untuk sekedar mengganjal perutnya di cafeteria.

Dia Lee Donghae. Seorang dokter muda yang tengah disibukkan oleh beberapa laporan pasien-pasiennya. Beginilah rutinitasnya setiap hari sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu. Semenjak Hye Ra pergi meninggalkannya dan terlebih lagi tanpa setitik kabar. Berulang kali Donghae mencoba mencari informasi tentang keberadaan dan keadaan Hye Ra saat ini tetapi berulang kali juga hasilnya nihil.

Keinginan Donghae untuk segera menyusul Hye Ra ke Korea sangat kuat. Andai saja pekerjaannya tak sebanyak ini, ia akan segera pergi ke Korea untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Oppa~” Suara sedikit cemprang itu terdengar seiringan dengan terbuka lebarnya pintu ruangan Donghae.

“Rae Mi?”

Muncul sesosok wanita bertubuh semampai di radar pandangan Donghae. Gadis bercelana jeans ketat dan juga hoodie putih yang membalut tubuh rampinya itu tengah berdiri di depan pintu yang baru saja terbuka akibat ulah tangannya itu.

“Ayo kita makan siang.”

“Tapi… aku….”

“Aku tahu Oppa sangat sibuk. Karena itu aku membawakan ini.” Potong gadis bernama Jung Rae Mi itu sambil mengangkat kedua tas berbahan kain yang dapat ditebak berisi kotak bekal.

“Rae Mi-yaa… Aku….”

“Ingin mengatakan aku tidak lapar? Kau sangat buruk dalam ber-acting, Oppa! Baru saja aku mendengar rontaan perutmu itu.” Rae Mi lantas tersenyum sambil menarik sebuah kursi tepat di hadapan Donghae.

Donghae hanya bisa mendengus dan melontarkan seulas senyum pada sesosok gadis yang dikenalnya hampir sebulan yang lalu itu. Sejauh ini dalam penilaiannya, Rae Mi adalah sesosok gadis yang ceria dan juga baik. Dan itu mampu membuatnya semakin merindukan Hye Ra. Karena sikap mereka sungguh mirip.

“Cobalah,Oppa. Aku membuatnya sendiri.” Rae Mi menyerahkan sepasang sumpit kearah Donghae.

Tersaji sekotak penuh kimbab dihadapan Donghae. Oke, dari segi penampilan mereka terlihat enak dan menggiurkan. Donghae pun mengarahkan sumpitnya kearah sebuah kimbab dan kemudian dimakannya dengan tempo kunyahan lambat.

‘Akhirnya aku menemukan perbedaan Rae Mi dan Hye Ra. Pada masakannya… tak ada yang bisa menandingi Hye Ra.’

Waeyo? Apa tidak enak?” Tanya Rae Mi sambil mencondongkan tubuhnya lebih mendekat kearah Donghae dan memasang wajah penuh harap.

Anniya. Ini enak. Hanya…”

Rae Mi berinisiatif untuk mencicipi masakannya sendiri. Diambilnya sepotong kimbab dengan sumpitnya sendiri.

“Asin!! Ini asin sekali!” Dengan cepat ditenggaknya air mineral yang ada di meja kerja Donghae.

“Mengapa Oppa tidak jujur? Seharusnya katakan saja jika ini tidak enak. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil.”

Mianhae. Aku berkata seperti itu untuk menghargai jerih payahmu.”

“Bagaimana kalau kita makan siang diluar saja setelah pekerjaanku selesai?” Tawar Donghae.

“Baiklah.”

-oOo-

 

“Mengapa kau membawaku kemari?” Hye Ra mengedarkan pandangannya ke sekeliling bangunan megah dihadapannya.

“Tempat ini adalah awal dari segalanya.” Ujar Kyuhyun yang tengah berdiri disisi Hye Ra.

“Awal?”

Kajja.” Kyuhyun menggenggam erat telapak tangan Hye Ra dan membimbingnya untuk berdiri dan berjalan tepat disampingnya.

Hari ini Kyuhyun membawa Hye Ra kembali ke tempat awal mereka bertemu. Paran High School. Semua tempat awal dari segala kerumitan perasaan yang tengah terjadi diantara mereka. Kyuhyun berharap, dengan cara ini akan mengembalikan sedikit ingatan Hye Ra.

Kyuhyun tak mengerti tentang apa yang tengah ia rasakan didalam dadanya yang semakin terasa sesak. Ada rasa bahagia, takut, sedih, khawatir, dan menyesal yang bersarang di dalam hatinya. Bahagia, karena Hye Ra telah kembali berada didalam genggamannya. Takut, karena Kyuhyun sangat takut Hye Ra tak mampu mengingatnya dan menemukan rasa cintanya lagi. Khawatir, karena Kyuhyun khawatir Hye Ra akan mencoba pergi dan melepaskannya setelah mengingat segalanya. Menyesal, hal itu adalah perasaan paling mendasar yang tak perlu lagi di jelaskan penyebabnya.

Waegurae?” Kyuhyun menoleh akibat tangan yang tengah digenggamnya itu tiba tiba menjadi dingin.

N..ne?

“Sepertinya kau kedinginan”

Hye Ra mematung ketika tangan Kyuhyun dengan egoisnya menarik telapak tangannya yang tengah Kyuhyun genggam dan menyelorohkannya pada saku coat hitam yang dikenakan namja itu.

“Hangat?”

Hye Ra hanya menunduk tanpa membalas pertanyaan Kyuhyun untuk menutupi wajahnya yang mulai memanas dan pasti sebentar lagi akan muncul semburat merah di kedua pipinya.

Hye Ra selalu bingung dengan keadaan jantungnya beberapa waktu kebelakang ini. Selalu saja berdegup dengan kencang sampai sampai dirinya sendiri tak mampu mengendalikannya. Dan semuanya selalu saja mengarah disaat Kyuhyun berada didekatnya. Sudah hampir beberapa minggu ini.

-oOo-

Jongwoon tengah duduk termenung memandang kearah luar melalui jendela caffe miliknya. Disesapnya perlahan segelas cappucinno pada gelas porselen putih yang ada didalam genggamannya itu.

Diluar hujan turun rintik rintik dan semakin lebat. Titik titik air meluncur mulus jatuh ke tanah. Pikirannya kembali tersita dengan nama seseorang yang telah cukup lama tak singgah dipikirannya.

Cho Ahra. Ia kembali memikirkan nama wanita itu. Jongwoon menelesik jauh jalan hidupnya yang ternyata menemui titik bangkit ketika bertemu dengan Ahra. Ia bangkit dari cinta terlarangnya, yaitu mencintai Hye Ra yang tak lain adalah adiknya sendiri.

Setiap melihat hujan, setiap sesapan kopi, dan setiap duduk sambil menatap keluar jendela di kala sepi membuat Jongwoon teringat kembali sosok wanita yang mampu menarik perhatiannya itu. Dan juga…. Ia selalu kembali berharap Ahra akan datang kehadapannya.. datang menemuinya kembali.

Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa disadari langit telah berubah menjadi gelap. Hujan pun telah reda dari setengah jam yang lalu dan juga cappuccino telah habis tak bersisa.

Tak dipungkiri, sebuah kerinduan terselip kembali.

-oOo-

 

Kyuhyun membuka pintu kayu jati yang menjadi sekat antara satu ruangan kelas dengan koridor.

“Masuklah.” Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan menatap Hye Ra yang masih bingung dengan apa yang dilakukan Kyuhyun siang ini.

Hye Ra melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang dipenuhi oleh meja dan kursi yang tertata rapi di dalamnya. Matanya terpikat oleh jendela besar yang terbuka lebar di sisi kiri ruangan kelas ini.

Bunga Cherry Blossom. Bunga berwarna merah muda khas musim semi itu tumbuh dengan rindangnya menjuntai kearah jendela kelas. Hal itulah yang mampu menyita perhatian Hye Ra.

“Aku tahu kau menyukai bunga Cherry Blossom.”

Hye Ra berbalik dan mendapati Kyuhyun tengah duduk di kusen jendela sambil menatap lekat kedua manik matanya. Sebuah senyum terkembang penuh arti menghiasi bibir penuh nan indah itu.

“Aku tahu kau suka memandangi Cherry Blossom merekah di pagi hari, dan menatapnya di siang hari dibawah siraman cahaya matahari. Kau sering mengatakan bahwa Cherry Blossom akan lebih indah jika di pandang disaat matahari membuatnya terlihat lebih berkilau di siang hari.”

“Aku… aku pernah mengatakannya?”

“Kau selalu mengatakan hal itu padaku disaat saat seperti ini.”

“Seperti ini?”

“Ya, disaat kau dan aku tengah duduk berhadapan di jendela besar ini.”

“Aku mengatakannya…padamu?” Raut wajah Hye Ra tampak menyimpan sebuah tanda tanya besar atas ucapan Kyuhyun.

“Cantiknya Cherry Blossom, terangnya cahaya matahari yang menyinarinya, indahnya musim semi. Semuanya tidak ada artinya hari ini….. karena ada yang lebih dan paling cantik, bersinar, dan indah dari segalanya. Dirimu.” Setangkai bunga Cherry Blossom yang telah merekah sempurna saat ini tengah berada tepat dihadapan Hye Ra.

Kyuhyun tersenyum tipis sambil menunggu reaksi wanita dihadapannya. Sercerca harapan masih dibawanya dalam keteguhan hati akan kembalinya semua bagian yang tengah hilang dari wanita yang dicintainya itu.

Dengan mengutarakan kata kata yang sama persis dengan apa yang telah ia ucapkan disaat menyatakan perasaannya beberapa tahun lalu, ia berharap Hye Ra akan mengingat kenangan mereka perlahan seiring berjalannya waktu.

“Kata katamu….. seperti tidak asing di telingaku.”

 

-oOo-

 

“Ji Yoon-aah.”

Waeyo?”

Seorang lelaki dan wanita tengah duduk saling berhadapan ditemani dengan secangkir teh yang tersuguh dihadapan masing masing.

“Kira kira sudah berapa lama kita tak bertemu?”

“Mmm. Kurasa 5 tahun.”

“Benar juga. Kita terakhir bertemu saat akan masuk SMA.”

“Ya, sebelum kau memutuskan untuk ikut ke London bersama kedua orangtuamu.”

Goo Jun Hee, lelaki tampan yang tengah bercengkrama hangat dengan Ji Yoon –sahabat masa kecilnya-

“Mengapa baru kembali sekarang?” Lanjut Ji Yoon.

“Apa kau merindukanku?”

“Aissh. Bukan begitu.”

“Kukira kau merindukanku seperti aku merindukanmu.”

Ne?”

“Ya, aku merindukanmu. Ji Yoon-aah.” Lanjut Jun Hee dengan nada serius.

Mendadak suasana menjadi hening dan aura kecanggungan menyeruak. Ji Yoon sibuk menatap kedua manik mata lelaki dihadapannya itu, berharap dapat menemukan sebuah gurauan dari sorot matanya.

“Oh ya, bagaimana dengan bisnismu di London, Jun-aah?”

“Keberuntungan selalu memihak pada kami.”

“Cih.. sombong sekali.” Cibir Ji Yoon.

“Lalu, bagaimana kehidupanmu 5 tahun belakangan ini?”

Ji Yoon terdiam sejenak memikirkan sebuah jawaban yang akan ia berikan untuk pertanyaan sahabatnya itu. Karena tak mungkin ia mengatakan 5 tahun kebelakang ini kehidupannya penuh dengan kata pembalasan dendam.

“Baik baik saja. Walaupun konsep roda kehidupan itu tetap ada.”

“Kau mempunyai seseorang yang kau cintai?”

Lagi lagi bagaikan latihan ketahanan jantung, pertanyaan Jun Hee membuat jantungnya berdegup tak teratur.

“Aku… aku…”

Ji Yoon tak tahu harus menjawab apa. Ia bingung apakah hati penuh dendam ini masih layak untuk mempertahankan Kyuhyun atau tidak.

“Tak apa. Tenang saja, tidak usah dianggap serius.”

“Hmm. Baiklah.”

“Tetapi…. Apakah boleh…”

“Apa?”

“Aku mencoba mencintaimu?”

-oOo-

 

“Hyunie.. kemarilah.” Nyonya Kim merentangkan kedua tangan untuk menggapai cucunya itu dan mendudukkan ke atas pangkuannya.

Halmeoni… Hyunie ingin bertemu dengan eomma.” Rajuk Hyun Hae.

“Baiklah, tetapi hari ini samchon-mu masih sibuk di caffe.”

Tiba tiba Hyun Hae termenung seperti tengah memikirkan sesuatu.

“Apa boleh Hyunie bertanya?”

“Katakanlah.”

“Apa benar eomma akan menikah dengan samchon itu?”

“Kyuhyun?”

“Iya.”

“Benar. Eomma-mu akan segera menikah dengan Kyuhyun. Memangnya ada apa, Hyunie?”

“Tapi Hyunie tidak mengenalnya. Bagaimana kalau ternyata samchon itu ingin menculik eomma dari Hyunie.”

“Hahahaha. Kau polos sekali, Sayang. Kyuhyun tak mungkin menculik eomma­-mu. Bahkan dia sangat mencintai eomma-mu.”

“Tetapi eomma tidak mencintainya, halmeoni. Hyunie tahu.”

“Mengapa?”

“Karena eomma hanya mencintai appa.”

Appa?

-oOo-

 

Kyuhyun dan Hye Ra tengah duduk pada sebuah bangku kayu di tepian Sungai Han. Mata mereka dimanjakan dengan semburat indah berwarna kekuningan yang terbias sempurna di langit Kota Seoul sore ini.

“Aku masih tak mengerti mengapa kau membawaku ke tempat tempat yang bahkan aku tak pernah mengunjungi sebelumnya.” Ujar Hye Ra dengan mata yang tetap menatap langit.

“Aku ingin kau mengingatnya. Jadi berusahalah.”

“Apa hubungannya denganku? Untuk apa aku mengingat hal hal seperti itu?”

“Lakukanlah saja. Rangkai kembali untaian kenangan yang pernah kau lepaskan.”

Sedari tadi Kyuhyun memperhatikan wajah Hye Ra dengan lekat dari samping. Ditatapnya setiap anak rambut yang berterbangan dan sesekali menerpa wajah lembutnya.

“Tetapi apapun alasannya itu… aku tetap berterimakasih padamu. Entah apa dan mengapa hari ini aku benar benar merasa bahagia.”

Gumawoyo, Kyuhyun-ssi.

Hye Ra menoleh dan mendapati Kyuhyun tengah menatapnya. Sesuai dugaan, hatinya kembali berdesir. Setiap tatapan itu terkunci padanya. Selalu.

“Aku akan bersabar menunggumu merangkai kembali semuanya.”

“Sungguh aku masih teramat bingung dengan semua permintaanmu yang menyuruhku untuk mengingat sesuatu.”

“Lakukan saja dan kau akan mengerti nantinya.”

Hye Ra menyesap lagi minumannya dan mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.

“Jadi kumohon, tetaplah disisiku sampai kau benar benar mengerti tentang semuanya. Jangan pergi meninggalkanku.”

-oOo-

 

Donghae duduk di tepian ranjangnya dengan mata yang menerawang jauh menembus langit langit kamar.

“Aku merindukan kalian.”

Sekelebat bayangan Hye Ra muncul dalam benaknya. Hal itu mampu menggenapi setiap rasa rindu yang selama ini selalu dirasakannya. Telah berminggu-minggu dengan setiap harinya ia jalani tanpa Hye Ra dan Hyun Hae. Tanpa ada kabar sedikitpun.

Sepi. Setiap malam hanya hembusan angin menusuk kulit yang menemani dan akhirnya memaksa Donghae untuk terlelap meski sama sekali tak terasa nyenyak. Karena ia terus saja memikirkan Hye Ra. Ia takut bahkan sangat takut wanita itu tak akan kembali padanya. Ia takut Hye Ra akan kembali terjerat pada masa lalunya dan tak bisa melepaskan diri lagi.

“Aku harus memperjuangkanmu, Kim Hye Ra.”

Ego seorang Lee Donghae pun muncul. Dengan tatapan tajam yang terkesan mengintimidasi apapun yang tengah di tatapnya saat ini ia mengucapkannya dengan tegas dan mantap.

“Aku tak akan mengalah lagi dengan waktu.”

 

-oOo-

 

“Ada apa sehingga kau kemari pagi-pagi, Ji Yoon-aah?” Ujar seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk di balkon kamarnya.

“Aku ingin menjenguk Appa. Apa tidak boleh?” Jawab Kang Ji Yoon sambil meletakkan tas jinjingnya ke meja dan mendudukan tubuhnya tepat di samping Tuan Kang.

“Bukan begitu. Hanya saja tumben sekali kau ada waktu luang.”

“Setidaknya aku tak ingin mati karena terlalu berkutat dengan pekerjaan berat itu.”

“Apa kau hidup dengan baik?”

“Seperti yang Appa lihat. Aku baik baik saja.”

Memang selama ini Ji Yoon tinggal terpisah dengan kedua orangtuanya semenjak menjadi CEO. Ia memilih untuk tinggal di apartement dekat perusahaan miliknya.

Dan saat ini ia baru sempat untuk menjenguk sang ayah yang kesehatannya tengah menurun. Maksud kedatangannya tak sekedar untuk mengunjungi dan melepas rindu pada kedua orangtuannya, tetapi juga untuk menanyakan suatu hal yang terdengar remeh tetapi mampu membuatnya terus teringat ingat.

Appa…

“Hmm….”

“Ada satu hal yang ingin kutunjukkan dan kutanyakan.”

“Apa?”

Ji Yoon mengambil tas jinjingnya dan mencari sesuatu di dalamnya.

Ige…

Ji Yoon menyerahkan selembar foto hitam putih yang ditemukannya di loker meja kerja tempo hari.

“Dimana…. Dimana kau menemukan foto ini?”

“Di loker meja kerja.”

Tuan Kang terdiam dan menatap selembar foto itu tanpa berkedip.

“Jika salah satu dari kedua gadis itu adalah aku, lantas siapa gadis yang tengah berfoto denganku?”

 

-oOo-

 

Donghae mengenakan kacamata hitamnya dan melangkah keluar dengan menggeret sebuah koper berukuran sedang di tangan kanannya. Sedangkan pada tangan kirinya terdapat selembar tiket pesawat tujuan Seoul. Ia berjalan menuju kea rah sebuah taxi yang telah menunggu di luar.

Ya, inilah langkah yang telah dipilihnya. Ia akan memperjuangkan cintanya berarti ia harus menyusul Hye Ra ke Korea. Tekadnya sudah bulat, tak ada secuil keraguan lagi dengan apa yang telah dipilihnya.

“Kita berangkat sekarang.” Ujar Donghae pada supir ketika telah berada di dalam taxi.

Selama perjalanan, Donghae hanya diam termenung menatap keluar jendela. Hatinya benar benar tak sabar untuk segera tiba di Korea dan segera menemui Hye Ra.

Drrt.. Drrt..

Ponsel Donghae pun bergetar. Ia pun segera menyelorohkan tangan kedalam saku celana jeans yang dikenakannya.

From : Jung Rae Mi

Oppa.. eodiseo?

Dengan cepat Donghae menjawab pesan gadis yang dianggapnya sebagai adik itu.

To: Jung Rae Mi

            Aku dalam perjalanan ke bandara. Aku akan ke Seoul hari ini.

Donghae memasukkan kembali ponselnya kemudian memilih untuk menyandarkan kepala pada headboard mobil.

‘1 jam lagi, Lee Donghae. 1 jam lagi kau akan berada di Seoul. Persiapkanlah dirimu.’

 

-oOo-

 

06.30 TKY, Tokyo Airport

Donghae menatap papan boarding yang ada dihadapannya sambil sesekali mencocokkan jadwal penerbangan yang ada di tiket pesawat. 10 menit lagi pesawat yang akan membawanya kembali ke Seoul akan lepas landas. Donghae pun berjalan kearah pintu boarding.

OPPA! CHAKKAMAN!!”

Donghae menoleh kebelakang dan mendapati sesosok gadis yang dikenalnya tengah berlari sekuat tenaga kearahnya.

“Rae Mi?”

GREPP…

Donghae hampir saja jatuh jika tak mampu menahan tubrukkan keras yang menimpa tubuhnya. Sebuah pelukan yang sangat erat dirasakannya melalui lingkaran lengan gadis itu.

Kajjima…

“Rae Mi-yaa. Waeguraeyo?”

“Jangan meninggalkanku, Oppa..

Donghae menatap dengan lekat wajah Rae Mi yang telah memerah ditambah lagi mata sembabnya yang terus mengeluarkan airmata.

“Ada apa denganmu? Mengapa menangis seperti ini?”

Oppa.. jangan tinggalkan aku.”

“Tetapi aku ada hal penting di Seoul.”

“Hal penting apa? Mengejar kekasihmu?!” Nada bicara Rae Mi menjadi sedikit membentak.

“Hei. Ada yang salah dengan dirimu?”

Tiba tiba terdengar suara wanita dari speaker dan mengatakan bahwa pesawat yang ditumpangi Donghae akan lepas landas beberapa menit lagi.

“Maaf aku harus pergi sekarang. Ige… hapus airmatamu.” Donghae mengulurkan sebuah saputangan kehadapan Rae Mi.

Donghae membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu boarding sedangkan Rae Mi hanya mampu menatap punggung namja itu sampai menghilang di balik pintu.

“Kau meninggalkanku.” Rae Mi menghempaskan saputangan Donghae ke lantai dan langsung berlari dengan keadaan masih menangis.

Rae Mi juga merasakan ketakutan yang sama. Ia takut lelaki yang susah payah di dekatinya akan terlepas dari genggamannya. Ia takut lelaki yang dicintainya itu akan kembali pada masa lalunya. Ia takut dan juga bingung. Apakah dia berhak mencintai dengan hati yang seperti ini?

 

TBC

 

About these ads

18 thoughts on “[Author Freelance] (FF Series) I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! (It’s Your Baby) Part 15

  1. aduuh abg kyuhyun..
    tenang aja hye ra pasti akan mengingat mu..

    hyun hae appa mu itu kyuhyun nak bukan donghae…

    hiyaaah donghae mengejar cinta..
    kyaa kira2 foto yg di liatin ji yoon ke appa foto siapa coba..

    sumpeh makin penasaran sm cerita selanjutnya..
    enak bngt ya hye ra di cintai kyihyin,yesung sama donghae..
    laki laki tampan itu..

    arthour semangat ya..
    lanjutkan karyanya.

  2. assaaaaaa!!! donge akhirnya nyusul hyera juga. ayo ayo…donge-hyera cepet ketemu lagi dongg. kangen dong-hye moment :) hyunhae juga. kangen moment mereka bertiga :3

  3. akhirnya muncul juga part 15 nya hehe
    kira-kira foto yg ditunjukin siapa ya? jung rae mi kah? waaah penasaran banget kelanjutannya. jangan lama-lama ya next part nya. hwaiting!! :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s