[Author Freelance] (FF Series) I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! (It’s Your Baby) Part 13

Cho Kyuhyun and Lee Donghae

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah 

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz 

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com 

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-11 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

Oppa, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Hye Ra sambil membenahi lipatan pada gaun malam berwarna biru tua itu.

“ Mengajakmu dan Hyun Hae ke suatu tempat.”

“ Tetapi apa harus memakai pakaian formal seperti ini?”

“ Sudahlah.”

“ Beritahu aku terlebih dahulu kemana kita akan pergi. Baru aku akan ikut.”

“ Baiklah.. Baiklah.. Kita akan makan malam di N-Grill.”

“ N-Grill? Namsan?”

“ Ya. Kau senang?”

Ne.”

~Story Beginning~

 

 

Sebuah Mercedes Benz hitam berhenti tepat di depan bangunan yang telah menjadi icon terkenal Korea Selatan itu. Namsan Tower. Cahaya berbagai warna yang menyelimutnya berganti ganti setiap selang waktu yang sudah diatur. Sungguh nampak sangat indah.

Suara lembut pintu mobil mewah itu dibuka pun terdengar. Terlihat sepasang kaki jenjang beralaskan high heels silver tengah bergerak menuruni mobil itu. Tak lama kemudian telah berdiri dengan anggunnya sesosok wanita cantik dengan balutan dress biru tua yang terlihat pas dan cocok melekat di tubuhnya.

Sungguh wanita itu sangat menawan. Tatapan kagum milik lelaki bermata sipit yang tengah membukakan pintu untuk wanita itu pun tak bisa berbohong. Rekahan senyum spontan itu juga dapat mencerminkan dan menjelaskan dengan gamblang betapa mempesonanya wanita berambut coklat tua yang sengaja di pilin longgar ke samping itu.

Jeongmal yepppuda.”

Oppa!” Wanita yang mengeluarkan semburat merah di pipinya itu memukul pelan lengan lelaki yang telah membukakan pintu mobil bak seorang puteri kerajaan itu.

“ Aku tidak bohong, Hye Ra.” Lelaki bernama Kim Jongwoon itu sedikit melebarkan mata sipitnya dan menatap meyakinkan kearah Hye Ra.

Arra.. Arra..

Eomma… Samchon.” Terdengar suara pintu mobil kembali di buka. Kali ini dari pintu bagian penumpang.

“ Ahh.. Hyunie… Mianhaeyo.. Samchon melupakanmu.” Jongwoon yang sadar akan kehadiran keponakannya itu segera menggendong tubuh mungil Hyun Hae.

Kajja, samchon. Hyunie lapar.”

“ Aissh. Hyunie…” Desis Hye Ra.

“ Hahaha mianhaeyo, Eomma. Tapi aku benar benar… lapar.”

Jongwoon terkikik geli melihat tingkah keponakan satu satunya itu.

Setelah menutup pintu mobil, Jongwoon memencet tombol yang memang terdapat pada kunci mobil untuk mengunci Mercedes Benz-nya itu secara otomatis.

Kajja!

Hye Ra mengangguk sambil mengaitkan tangannya ke sela sela lengan Oppa-nya itu. Pandangan mereka sempat bertemu. Jongwoon tersenyum dan menganggukkan kepalanya disambut dengan reaksi yang sama oleh Hye Ra.

Dinginnya angin malam kali ini membuat Hye Ra sedikit merapatkan tubuhnya melalui kaitan tangannya pada lengan Jongwoon yang semakin mengerat. Tanpa ia sadari, perlakuannya itu mengakibatkan sebuah sengatan terhadap Oppa-nya.

Tanpa disadarinya.

-oOo-

Kedua manik mata coklat tua itu sibuk memandang kosong kearah kerlipan lampu lampu jalanan yang seakan bergerak di balik jendela kaca audy hitam metalik. Kedua telapak tangan yang saling bertaut dan tak bisa tenang itu menyiratkan sebuah kegundahan dari seorang Cho Kyuhyun. Jika diberi pilihan hidup atau mati dia pasti akan memilih untuk mati detik ini juga daripada harus menikah dalam perjodohan konyol ini.

“ Kyuhyun-aah.” Sebuah tepukan lembut yang mendarat di pundak sempit Kyuhyun berhasil menyadarkannya dari lamunan.

Ne, aboji?”

            “ Kau tampak gelisah.”

Annimida.”

            “ Kau tak perlu khawatir. Kau tak akan menyesal dengan hal ini.”

Ye.

Kyuhyun tersenyum singkat dan membalikkan tubuhnya kembali menghadap jalanan luas di depan sana. Ia hanya bisa menghela nafas berat. Tak perlu khawatir? Hah.. itu adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukannya dalam situasi seperti ini. Disituasi menuju detik detik masa depannya yang sama sekali tak di harapkannya, bagaimana bisa tercetus sebuah gagasan untuk tenang?

-oOo-

Hye Ra dan Jongwoon berjalan berdampingan memasuki salah satu bagian di Namsan Tower yang ber-tittle-kan N-Grill Restaurant itu. Kedua tangan mereka tak saling bertautan lagi melainkan sebelah tangan mereka saling menggenggam erat jemari mungil Hyun Hae kanan dan kiri. Mungkin bagi orang yang tak mengetahuinya akan menganggap mereka adalah sebuah keluarga kecil bahagia.

Oppa..

“ Hmm. Waeyo?

“ Aku sedikit gugup. Entahlah.”

Jongwoon yang mendengar ungkapan Hye Ra hanya tersenyum simpul dan terlihat penuh misteri tanpa berniat untuk menjawab atau menenangkan adiknya itu.

Eomma…

Ne?

“ Aku ingin ke kamar kecil.” Ujar Hyun Hae sambil memasang wajah memelas kearah Hye Ra.

“ Baiklah. Kajja.”

“ Biar aku saja, Ra-yaa.”

“ Tak apa. Oppa tunggu saja di dalam. Aku akan segera kembali.”

“ Hmm. Baiklah. Cepatlah kembali.”

Ne.

-oOo-

Hye Ra berjalan dengan begitu anggun sambil sebelah tangannya yang masih terulur mengenggam erat jemari jemari mungil Hyun Hae. Dilangkahkan kakinya dengan hentakan yakin melewati pintu berbahan kaca tembus pandang itu. Dihentikan sejenak kaki beralaskan high heels itu sementara sang pemilik mengedarkan mata indahnya ke seluruh penjuru ruangan berasitektur mewah dan glamour ini.

“ Nona Kim Hye Ra?” Sebuah suara berat dengan nada sopan tiba tiba terdengar dan sedikit mengejutkan Hye Ra.

“ Ahh. Ne.” Ujar Hye Ra menatap lelaki berpakaian hitam putih khas pelayan itu.

“ Mari saya antarkan ke meja Anda.” Lelaki itu tersenyum sambil mengarahkan tangan kanannya ke sebuah arah yang merupakan tanda agar Hye Ra dan Hyun Hae mengikutinya.

Hye Ra akhirnya berjalan tepat di belakang pelayan itu. Matanya terus saja berkeliaran menatap segala sudut ruangan yang ter-desain sempurna dihadapannya itu. Hye Ra terus terang kagum dengan tata ruang yang bisa di nilai kelas atas ini.

Tetapi sebenarnya banyak pasang mata yang lebih terlihat memasang tatapan kagum. Ya, tak sedikit yang memandang Hye Ra dengan tatapan kagum, dengan senyum mengembang tepat disaat wanita cantik itu berjalan tepat di hadapan mereka.

Tak di pungkiri, riasan tipis dan ala kadarnya itu mampu membius dan mengalihkan perhatian para pengunjung restaurant dengan sekali pesona yang dimiliki seorang Kim Hye Ra.

“ Silahkan.”

Hye Ra langsung menghentikan langkah kakinya saat pelayan yang sedari tadi memimpin jalan telah berhenti terlebih dahulu dan membalikkan tubuhnya menghadap Hye Ra.

Gamshamnida.

Pelayan itu mengangguk sopan sambil menampilkan senyum ramah sebelum pergi meninggalkan Hye Ra.

Kini, tinggal Hye Ra dan Hyun Hae yang masih berdiri dalam radius 2 meter dari mejanya. Matanya tak beralih dari punggung dua orang yang tengah duduk membelakanginya tepat di hadapan Jongwoon –kakaknya-. Punggung itu sama sekali tidak asing baginya, walau terasa sudah sangat lama ia tak melihatnya. Dilihatnya dengan seksama punggung pria ber-tuxedo dan wanita berbalutkan gaun simple berwarna merah yang dibalut dengan mantel bulu putih gading itu secara bergantian.

Eomma. Nuguya?” Hyun Hae mendongak menatap Hye Ra untuk mencari jawaban, sama seperti yang tengah di pikirkan ibunya itu.

“ Ra-yaa. Hyunie-aah. Kalian sudah kembali rupanya.” Belum sempat Hye Ra menjawab pertanyaan anaknya itu, Jongwoon telah menyadari keberadaan mereka terlebih dahulu. Jongwoon pun berdiri dan beranjak dari kursinya kearah adik dan keponakannya.

“ Aku punya sebuah kejutan untuk kalian.” Ucap Jongwoon dengan nada pelan.

Diraihnya pergelangan tangan Hye Ra dan dituntunnya untuk mengikuti langkah Jongwoon kembali ke kursi.

Kedua mata Hye Ra melebar dan seketika jatuh butiran kristal bening yang semakin lama semakin deras jatuh dari pelupuk matanya membasahi kedua pipi yang sudah terpoles tipis blush on merah itu.

Dirasa tangisannya akan meledak beberapa detik lagi, Hye Ra langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan. Matanya terus saja menatap kearah dua orang yang tengah tersenyum haru di hadapannya.

“ Apa kabar, Sayang?” Terdengar aksen suara parau yang di lontarkan wanita paruh baya yang saat ini sudah berdiri dihadapan Hye Ra sambil mengelus pipi anaknya itu.

Eomma…” Lidah Hye Ra terasa kelu. Tak ada satu kalimat lain yang mampu ia ucapkan kepada sosok wanita di hadapannya ini.

Tangan Hye Ra langsung mendekap erat tubuh ibunya itu. Tak peduli bagaimana air mata yang terus membasahi pipinya. Rasa rindu yang sangat menggebu-gebu itu sangatlah menyiksa dan membuat ia tak peduli akan sekitarnya. Yang terpenting satu kerinduan sudah terobati. Setidaknya hal ini sedikit meringankan perasaan Hye Ra yang ia pendam selama ini.

“ Jangan menangis lagi. Eomma tak ingin melihat bidadari kecil eomma yang cantik menjadi berantakan karena menangis.” Nyonya Kim mengendurkan pelukannya. Di tatapnya lembut wajah Hye Ra yang terlihat memerah akibat menangis itu.

Appa…” Tatapan Hye Ra beralih menatap sosok paruh baya yang masih terlihat tegap yang berdiri di samping eomma-nya sambil tersenyum.

Appa sangat merindukanmu.” Tuan Kim memeluk singkat tubuh Hye Ra dan tangannya beralih ke pundak anaknya itu mengisyaratkan untuk memberi kekuatan lewat tepukan di kedua sisi bahu yang terbuka itu.

Sementara Hyun Hae, ia hanya menatap bingung kearah eomma-nya yang beberapa waktu lalu menangis tersedu sedu di dalam pelukan wanita yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Sesekali ia mendongak menatap pamannya yang tengah tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu.

“ Hyunie.. mereka adalah haraboji dan halmeoni. Beri salam kepada mereka.” Ujar Jongwoon sambil mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Hyun Hae.

Jinjja? Haraboji… halmeoni??” Hyun Hae membulatkan matanya. Memandang tak percaya kearah Jongwoon.

“ Ya. Mereka adalah orang yang ingin Hyunie temui.” Jelas Jongwoon.

Hyun Hae mengalihkan pandangannya pada dua orang paruh baya yang ada di samping kiri dan kanan eomma-nya.

Annyeonghaseo haraboji.. halmeoni.. noneun.. Hyun Hae.. imnida” Ujar Hyun Hae seraya menmbungkukkan tubuhnya.

Neomu kyeopta.” Nyonya Kim berjalan kearah Hyun Hae sementara tangannya menghapus sisa sisa air mata yang ada di pelupuk matanya.

“.. dan juga sangat tampan.” Lanjut Nyonya Kim sambil menggenggam erat tangan Hyun Hae dan menatap wajah polos itu dengan penuh kasih sayang.

-oOo-

Sebuah audy cokelat tua berhenti tepat di depan loby Namsan Tower. Tak lama berselang keluar sosok namja tegap dengan jas hitam yang melekat indah pada tubuh proposionalnya. Kedua tangannya tergerak untuk sedikit menarik kedua sisi belahan jas-nya yang berada di bagian depan tubuhnya guna merapikan tatanan jas yang sedikit kusut itu.

“ Ayo.” Lelaki paruh baya yang tengah berjalan dengan bantuan satu tongkat kayu di genggamannya itu menepuk bahu Kyuhyun sebelum melangkah terlebih dahulu memasuki Namsan Tower.

“ Waktu terus berputar, Kyuhyun-ie.” Timpal wanita setengah baya yang mengkaitkan lengannya di sela siku suaminya sebelum pada akhirnya berjalan mendahului anaknya yang masih berdiri mematung di belakang.

Kyuhyun menatap nanar punggung kedua orang tuanya yang terlihat semakin menjauh. Sebuah senyuman pahit di lontarkannya. Nafasnya memburu dalam tempo yang semakin cepat. Membuat rasa sesak mendominasi setiap ruang di relung Kyuhyun.

“ Apa aku tak diperbolehkan egois? Untuk kebahagiaan yang kupilih. Tak bolehkah aku memilikinya?” Kyuhyun ber-monolog dengan mata yang tak lepas memandang kearah pintu kaca yang telah ‘menelan’ kedua orang tuanya hingga tak terlihat lagi di radius pandangannya.

Matanya tiba tiba merasa panas. Ia merasa sebuah cairan bening itu telah mendesak keluar dan mengalir. Tapi cepat cepat di tahan dengan mendongakkan kepalanya menatap langit gelap yang tak banyak bintang. Hanya beberapa yang berkelip dengan redup dan juga rembulan yang samar samar menggantung di langit sebagai pemanis yang ala kadarnya untuk malam ini.

“ Ahh. Aku mengerti. Batasan untuk egois-ku telah habis. Sebelumnya aku selalu bertindak egois tanpa memikirkan bagaimana perasaannya. Kurasa saat ini adalah waktunya untuk menerima takdir tanpa adanya sebuah keegoisan. Dan aku harus menerimanya.” Kyuhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain hitam yang di kenakannya itu.

Di hela nafas panjang dan di hembuskannya perlahan. Berharap rasa sesak yang membelenggu itu dapat berkurang. Ya walaupun tak memberikan hasil yang begitu signifikan.

Lelaki bermarga Cho itu kembali menegakkan tubuh menjulangnya itu. Dilangkahkan kaki bertungkai panjang itu dengan mantap. Meski tak semantap hati di dalam dirinya.

Setiap langkah dirasanya begitu berat. Langkah demi langkah menuju masa depannya yang tak tertebak. Selama perjalanan menuju N-Grill restaurant pikirannya melayang entah kemana. Ia memikirkan bagaimana wanita yang nanti akan menjadi pendampingnya. Apa dia secantik Hye Ra? Apa sebaik Hye Ra? Apa setegar Hye Ra? Apa sesempurna sosok idamannya… seorang Kim Hye Ra?

Akhirnya langkah kaki itu berhenti tepat di depan ruangan yang merupakan restaurant tujuannya itu. Dilihatnya samar samar kedua orang tuanya tengah berbincang bincang dengan raut wajah bahagia dengan dua orang namja yang ada di hadapan mereka. Tak terlihat satu wanita pun yang ada di antara mereka. Apa perjodohan ini di batalkan? Tetapi melihat ekspresi kedua orang tuannya yang tak terlihat sedih sama sekali, tak menggambarkan bahwa perjodohan ini batal.

Annyeonghaseo. Maaf saya sedikit terlambat.” Kyuhyun menundukkan kepala sembari membungungkukkan tubuhnya. Ia sama sekali tak berniat menatap lurus kedepan.

“ Ahh gwenchana, Kyuhyun-ssi.”

“ Ini Tuan Kim. Dia adalah sahabat aboji.” Suara khas ayahnya itu sontak membuat Kyuhyun mendongakkan kepalanya.

Mata Kyuhyun terbelalak lebar ketika menatap namja yang tengah duduk di sebelah lelaki paruh baya di hadapannya. 3 detik pertama tubuhnya kaku. Tak di sangka ia akan bertemu dengan lelaki pemilik tatapan tajam itu.

Terkejut bukanlah satu satunya ekspresi yang dimiliki Kyuhyun tetapi juga di tunjukkan oleh lelaki yang hampir sebaya olehnya itu. Tubuhnya terduduk tegak tepat disaat Kyuhyun mengangkat wajahnya. Tersirat sebuah amarah tersendiri dari balik mata bulan sabit itu. Tak ada yang berubah dengan tatapannya terhadap Kyuhyun. Tetap dingin dan tajam.

“ Bukankah Kyuhyun dan Jongwoon hanya terpaut 4 tahun?” Tuan Kim membuka suara untuk memecahkan keheningan diantara Jongwoon dan Kyuhyun yang hanya saling bertatapan tanpa ada niatan untuk memulai pembicaraan.

“ Ya. Jarak yang cukup dekat.” Sekarang giliran Tuan Cho yang menimpali ucapan sahabatnya.

Mereka tak mengetahui sedikit pun tentang apa yang terjadi sebelumnya. Antara Kyuhyun, Hye Ra dan Jongwoon.

“ Kyuhyun-ie. Duduklah. Sampai kapan kau akan berdiri seperti patung di sana.” Nyonya Cho tersenyum kearah Kyuhyun.

“ Ahh.. Ye, Eomma.” Kyuhyun menarik kursi yang ada tepat di sebelah ayahnya dan dengan cepat mendudukkan tubuhnya.

Pikiran Kyuhyun saat ini di penuhi dengan ribuan tanda tanya yang terus saja muncul. Satu kenyataan membuat tanda tanya itu semakin banyak bagaikan tumbuh bercabang cabang dengan kalimat kalimat pertanyaan penasaran yang sudah membuncah.

Jika Jongwoon dan orang tuanya ada di hadapannya, bukankah berarti ia akan di jodohkan dengan…… Hye Ra? Seketika jantung Kyuhyun berdetak dengan kencang. Ia berharap hal yang di pikirkannya itu memang adalah jawabannya. Tetapi dimana Hye Ra?.

Namja berambut cokelat gelap itu menyalurkan kegundahannya dengan meremas jemarinya sendiri. Berulang kali ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas untuk mempersiapkan jantungnya akan sebuah kenyataan yang mungkin tak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya.

Samchon, mengapa eomma dan halmeoni lama sekali?” Sebuah suara lugu tiba tiba menyusup ke dalam indera pendengaran Kyuhyun. Dengan satu kedipan mata, Kyuhyun sudah membuka lebar kedua matanya.

Dilihatnya seorang anak lelaki berusia sekitar 3 tahun yang tengah berusaha naik ke atas kursi yang tentu saja lebih tinggi darinya.

“ Hyunie….” Jongwoon yang tersadar langsung menatap kearah Hyun Hae.

Kyuhyun sama sekali tak melewatkan satu kedipan pun menatap sosok kecil yang sangat mirip dengannya itu. Diperhatikan dengan seksama wajah Hyun Hae di hadapannya. Benar benar seperti miniatur dirinya.

Didalam kepala Kyuhyun, tanda tanya itu kembali bermunculan. Apakah dia adalah……..

“ Dia bukan anakmu!” Desis Jongwoon memotong semua pemikiran dan pengandaian Kyuhyun.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya kearah Jongwoon yang tengah menatapnya dengan sinis dan tajam.

“ Dia bukan anakmu, Cho Kyuhyun!”

Sepertinya pembicaraan menegangkan hanya terdengar oleh dua orang lelaki yang tengah saling menatap ini. Hyun Hae sama sekali tak mendengarnya karena bocah itu disibukkan oleh daging steak yang tersaji di hadapannya. Sedangkan orangtua mereka telah tenggelam dalam obrolan obrolan seputar bisnis mereka atau entahlah.

“ Aku sama sekali tak percaya denganmu, Jongwoon-ssi.”

“ Mengapa sekarang kau malah mengharapkan anak yang ingin kau bunuh? Lucu sekali. Kutegaskan sekali lagi… Dia bukanlah anakmu, Cho Kyuhyun! Anakmu sudah mati kau bunuh!.” Jongwoon menekankan suaranya. Meski berbicara lirih itu terdengar sangat tajam.

Mianhamnida, sedikit membuat kalian menunggu. Aku harus kembali meriasnya.”

-oOo-

“ Dokter Lee…”

Tak ada jawaban dari sesosok lelaki yang tengah duduk termenung sambil memainkan sebuah bulpoint hitam ditangannya.

“ Permisi Dokter Lee.” Wanita berpakaian serba putih dengan topi perawat yang bertengger di atas kepalanya itu pun memanggil lelaki itu lagi. Berharap panggilannya kali ini tak di acuhkan begitu saja oleh dokter yang telah menjadi idola para wanita di rumah sakit ini.

“ Ahh.. ya.. suster Hanazawa.. ada apa?”  Lelaki bernama lengkap Lee Donghae itu akhirnya tersadar dan sedikit tergagap setelah wanita berpakaian suster itu melambai lambaikan tangannya tepat di depan wajah Donghae.

“ Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Secara pribadi. Dia menyuruh Dokter Lee segera ke cafeteria rumah sakit.”

“ Baiklah.”

Suster Hanazawa sedikit membungkuk dan keluar dari ruangan Donghae.

Donghae berdiri sembari melepas jas dokternya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Di liriknya arloji silver yang menggantung di pergelangan kirinya. Ternyata sudah pukul 8 malam. Ia heran berapa lama dihabiskannya waktu untuk termenung hari ini. Memang semenjak Hye Ra kembali ke Korea 2 hari yang lalu, Donghae seperti kehilangan semangatnya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit hingga larut malam daripada pulang dan beristirahat dirumah. Hal itu karena sudah tak ada alasan untuk pulang lebih awal ke rumah. Karena tak ada lagi Hye Ra dan Hyun Hae yang ada di sana.

Donghae melipat lengan kemeja putihnya itu sampai batas siku. Dengan sedikit gontai, ia melangkah kearah pintu dan memutar knop-nya. Dilongokkan kepalanya kearah kanan dan kiri dan di dapatinya koridor rumah sakit yang sepi dan lengang, kursi kursi tunggu juga hanya teronggok begitu saja tanpa ada seorang pun yang duduk di atasnya.

Ia memutuskan untuk keluar dari ruangannya dan berjalan menyusuri lorong koridor rumah sakit yang gelap dan sepi ini. Dalam keheningan Donghae melangkahkan kakinya.

Sesampainya di cafeteria rumah sakit, Donghae mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan untuk mencari seseorang yang ingin menemuinya.

“ Donghae!”

Merasa dirinya di panggil oleh seseorang, ia langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke asal suara.

Aboji?” Gumamnya.

Donghae berjalan mendekati ke satu meja cafeteria dimana ayahnya tengah duduk menunggunya.

“ Ada apa, aboji?” Tanya Donghae to the point.

“ Kau berhutang penjelasan padaku.”

Donghae mendadak termenung. Pandangannya kosong kedepan.

“ Siapa wanita itu?”

“…….”

“ Jawab aku Donghae-yaa. Siapa wanita itu dan apa hubungannya denganmu sampai sampai kau meminta bantuanku untuk menyembunyikan identitas aslinya?”

Donghae masih terdiam tetapi matanya menatap kearah ayahnya. Ia tak tahu harus mengatakan dan menjelaskan apa pada lelaki paruh baya itu.

“ Dia.. dia temanku.”

“ Hanya teman?”

“ Ya.”

“ Aku mengenalmu karena kau anakku. Kau tak akan melakukan hal sejauh ini jika wanita itu hanyalah temanmu.”

“ Baiklah. Aku memang menyukainya.”

Tuan Lee terlihat tersenyum tipis melihat ekspresi anaknya yang pasrah itu.

“ Mengapa harus menyembunyikan identitasnya?”

“ Kurasa dia dalam bahaya. Aku tak ingin dia terluka terlebih lagi meninggalkanku.”

“ Dimana dia sekarang?”

“ Kembali ke Seoul.”

“ Itu berarti dia meninggalkanmu?”

“ Tidak. Dia akan kembali segera….. meski tak ada yang bisa menjaminnya.”

“ Kejarlah dia jika memang kau yakin dengannya. Tetapi kau tak boleh memaksakan takdir.” Tuan Lee kembali tersenyum kearah anak lelakinya itu.

Donghae tersenyum kemudian menyesap perlahan moccacino yang sebelumnya telah di pesankan oleh ayahnya itu.

Ya, memang selama Hye Ra berada di Jepang, Donghae meminta bantuan ayahnya yang tak lain adalah salah satu petinggi di negara ini untuk menyembunyikan seluruh identitas Hye Ra tanpa sedikitpun bercerita tentang Hye Ra padanya.

-oOo-

Saat ini duduk seorang wanita cantik berbalut dress biru tua dengan make-up lengkap di wajahnya yang sempurna. Di hadapannya duduk seorang namja yang tak bisa mengalihkan pusat pengelihatannya dari wanita itu hingga ia lupa bagaimana cara untuk mengedipkan matanya.

“ Biar aku saja yang memotongnya.” Ujar Kyuhyun setelah kembali mendapatkan kendalinya.

Ne?

“ Daging steak.”

Kyuhyun mengambil piring putih berisikan steak daging sapi dari hadapan Hye Ra. Hye Ra memasang ekspresi kebingungan atas apa yang dilakukan Kyuhyun terhadapnya.

Kyuhyun memotong daging steak milik Hye Ra menjadi beberapa bagian setelah itu ia menaruh kembali piring steak itu di hadapan Hye Ra.

Gamshamnida, Kyuhyun-ssi.” Kyuhyun hanya membalasnya dengan senyuman lebar.

Hye Ra mulai memasukkan daging daging steak ke dalam mulutnya dengan gerakan yang begitu anggun. Pandangan Kyuhyun lagi lagi tersita oleh pesona gadis yang sangat ia rindukan itu.

Kyuhyun benar benar tak menyangka bahwa wanita yang selama ini ia cari sekarang tepat berada di hadapannya. Ia belum sepenuhnya percaya bahwa wanita yang selalu ingin dilihatnya saat ini dapat dilihatnya dalam jarak yang sedekat ini. Hanya di pisahkan oleh sebuah meja.

“ Beruntung sekali kita bisa berkumpul kembali dan membicarakan hal yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.” Ucap Tuan Kim setelah meminum segelas air di gelas wine-nya.

Mendengar ucapan Tuan Kim membuat Jongwoon tersentak dan mendongakkan kepalanya. Ia memikirkan sesuatu hal yang memang sudah terhubung sedikit demi sedikit dari berbagai keanehan yang ada di malam ini.

“ Apa maksud aboji adalah……… perjodohan?” Jongwoon sedikit memelankan suaranya dan menatap kearah ayahnya dengan tatapan meminta penjelasan.

“ Kau benar sekali. Tetapi sekarang bukan dirimu, Jongwoon-aah.

Bagai tersambar petir di siang bolong, Jongwoon hanya bisa ternganga mendengar jawaban santai Tuan Kim. Ia sama sekali tak mengetahui tentang rencana yang dibuat oleh kedua orang tuanya dan juga orang tua Kyuhyun. Hal ini bukanlah yang diinginkannya. Ia sangat tak rela jika harus menyerahkan orang yang paling dicintainya ke namja yang salah. Kepada namja yang hampir saja membunuh wanita yang dicintainya.

“ Kami bermaksud untuk menjodohkan Kyuhyun… dan Hye Ra.” Kali ini ucapan Tuan Cho yang membuat 2 manusia yang sedari tadi duduk berhadapan di ujung meja itu tersedak sampai terbatuk batuk.

Terdapat 2 ekspresi yang berbeda. Kyuhyun terlihat tengah mengulum senyumanya. Rasanya ingin ia berteriak dan memeluk kedua orangtuanya yang ternyata sama sekali tidak salah berniat untuk menjodohkannya. Karena mereka akan menjodohkannya dengan wanita yang menjadi tujuan hidupnya.

Sedangkan Hye Ra, ekspresi kebingungan yang sangat amat jelas tergambar di wajah dengan riasan tipis nan natural itu. Ia menolehkan kepalanya kearah kedua orang tuanya dan juga Jongwoon berharap satu dari mereka akan bersedia memberi penjelasan tentang hal ini.

“ Apa sudah ada rencana tentang konsep pernikahan mereka nanti?” Tanya Nyonya Kim pada Nyonya Cho yang duduk berhadapan.

“ Bagaimana jika pernikahan mereka di laksanakan 2 bulan lagi? Bagaimana jika memakai konsep elegant? Lebih baik jika pernikahannya….”

“ Cukup. Hentikan.. Tolong jelaskan padaku apa maksud semua ini?” Hye Ra merasa sebuah beban berat tiba tiba menghantam kepalanya. Ia hanya bisa memejamkan matanya sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada untuk memberi isyarat pada ibunya dan juga Nyonya Cho agar berhenti dari pembicaraan yang sungguh membingungkan itu.

“ Kami ingin kalian menikah, Hye Ra sayang. Kalian terlihat sangat serasi.” Nyonya Kim memberi pengertian pada Hye Ra sambil mengelus lembut punggung tangan anaknya yang mengepal keras di atas meja.

Eomma!

“ Kalian terlihat cocok. Eomma yakin kalian adalah sepasang jiwa yang diciptakan oleh Tuhan.”

“ Bagaimana kalian bisa melakukan hal ini?! Bahkan kami saja belum mengenal satu sama lain! Sungguh menyedihkan jika aku menikah dengan namja yang sama sekali tak ku cintai.” Ucap Hye Ra dengan nada amarah yang meluap luap.

“ Hye Ra…”

“ Tssk! Sungguh tak bisa dipercaya kalian tega berbuat seperti ini!” Hye Ra bangkit dari duduknya sembari menyambar tas tangannya yang ada di atas meja.

“ Aku pergi.” Desis Hye Ra sambil melangkahkan kakinya dengan hentakan hentakan high heels yang beradu dengan lantai marmer berwarna soft brown itu.

“ Hye Ra…”

-oOo-

Hembusan nafas kasar tanda kekesalan yang sudah meluap luap terdengar dari Hye Ra. Dengan frekuensi hentakan yang sama, high heels berwarna silver itu beradu di setiap anak tangga, menghasilkan sebuah suara yang cukup menyiksa telinga.

Sama sekali tak pernah terbayang bahwa orangtuanya akan melakukan hal yang sangat tak masuk akal. Menjodohkannya?. Zaman sudah berubah. Perjodohan bukanlah lagi cara yang efektif untuk mempertemukan belahan jiwa. Dibutuhkan proses, dibutuhkan rasa cinta yang akan tumbuh dengan sendirinya. Bukan dengan cara konyol yang terkesan dan bisa digambarkan dengan satu kata “pemaksaan” itu.

“ Hye Ra…” Derap langkah cepat yang berasal dari belakang tubuh Hye Ra pun terdengar. Menghantam lantai anak tangga dengan hak pendek sebuah pantofel.

Sama sekali tak dihiraukannya panggilan yang terus saja terdengar itu. Saat ini ia hanya cukup memfokuskan dirinya untuk cepat cepat keluar dari bangunan tempat mood-nya hancur lebur malam ini.

“ Dengarkan aku!”

Tubuh Hye Ra sedikit terhuyung ke belakang ketika sebuah tangan mencengkram erat pergelangan tangannya dan menariknya.

“ Lepaskan!” Hye Ra mencoba melepaskan cengkraman tangan Kyuhyun dari pergelangannya.

“ Dengarkan aku!” Ulang Kyuhyun sambil menghempaskan tubuh Hye Ra pada dinding yang ada di belakang tubuh wanita itu.

“ Apa maumu, Kyuhyun-ssi?!” Hye Ra mendongakkan wajahnya menatap Kyuhyun dengan wajah menantang.

“ Jangan berpura pura.”

“ Tssk! Berpura pura apa? Aku tak mengerti ucapanmu.”

“ Jangan bertindak seperti kita tak pernah bertemu sebelumnya.” Kyuhyun mengunci tubuh Hye Ra dengan menempelkan kedua tangannya didinding tepat disamping kepala Hye Ra.

“ Ck! Kau tidak sedang mabuk ‘kan, Tuan Cho! Kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“ Jangan menyiksaku seperti ini, Hye Ra! Aku tahu kau marah. Kau benci padaku. Tetapi aku mohon jangan berbohong.”

“ Berbohong apa? Aku memang benar benar tak mengenalmu!”

“ Hye Ra, tatap aku!.” Kyuhyun menangkup wajah Hye Ra dengan kedua tangannya. Memang terkesan pemaksaan, tetapi hanya dengan cara inilah agar ia mau menatap Kyuhyun.

Hye Ra tertegun menatap mata bermanik cokelat yang tengah menghunus kedua bola matanya dengan tatapan tajam tanpa sela kedipan sedikitpun.

“ Katakan padaku kau mengenalku sebelumnya.”

Hye Ra terdiam. Kepalanya berdenyut denyut menyebabkan rasa sakit yang merambat di setiap bagiannya. Nafasnya berubah menjadi tersengal sengal. Peluh juga mengucur dari kedua pelipisnya. Kulitnya juga menjadi sedingin es.

“ Katakan padaku jika kau mengenalku, kau pernah mencintaiku, dan katakan sejujurnya jika Hyun Hae….”

“ CUKUP!” Hye Ra memegangi kepalanya yang semakin terasa tengah mencabik cabik dan menghantam tempurung kepalanya. Di acaknya rambut yang sebelumnya tertata rapi menjadi berantakan.

Bulir bulir air mata berjatuhan dengan cepat sejalan dengan peluh yang semakin mengucur membasahi pelipisnya. Rasa sakit yang menggerogoti kepalanya seperti hendak membunuhnya saat ini juga. Rasa sakit itu datang ketika Hye Ra mulai memikirkan setiap ucapan Kyuhyun.

“ Cukup. Jangan lanjutkan……”

BRUK

Tubuh Hye Ra terhuyung kedepan tepat berada di dalam pelukan Kyuhyun. Tubuh Hye Ra yang tak sadarkan diri begitu lunglai dan lemah.

“ Hye Ra….”

Eomma!!

TBC

Hiyaaa apa apa’an ini???

Mianhae kalo rada ga nyambung..

Ngetiknya pas lagi pusing pusingnya =.=v

About these ads

14 thoughts on “[Author Freelance] (FF Series) I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! (It’s Your Baby) Part 13

  1. hyaaa kenapa bersambung? lg seru-serunya tuh. hyun hae liat kyuhyun melu hye ra? next part-nya jangan lama-lama ya ^^

  2. waeyo??? apakah hyera amnesia gara-gara kecelakaan kmrn di jepang?? kasian hyera :(
    Na setuju nya hyera sama donghae,, bukan sama kyukyu u,u
    ayo donge,, susul hyera ke seoul. perjuangakan terus cintamuuuuuuuu >.< fighting!!! :D
    btw,,,, ko tumben pendek bangeeeetttt… biasanya panjang. Na kan msh kangen sama hyunhae :D
    next part panjang pleaseeeeeeuuuu… hheheee :D
    smangat smangat!!!! next selalu dinanti~~~^^

  3. Wah trxta yg djdohkan itu kyu sma hyera? Kebetulan sekali.. Haha aku suka bnget saat kyu maksa hyera buat lhat dia.. Next :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s